PROPOLSAL PENELITIAN PENERAPAN PENDEKATAN PRAKTIS-AKTIF

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembelajaran sastra di sekolah-sekolah merupakan satu unit kesatuan yang tidak terpisahkan dengan pembelajaran bahasa Indonesia dengan nama mata pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia (Depdikbud,1999). Di dalam GBPP pelajaran Bahasa Indonesia secara tersurat disebutkan bahwa pembelajaran sastra dimaksudkan agar siswa mampu menikmati, memahami,dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Dengan demikian pembelajaran sastra juga merupakan sarana untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa dan sikap positif tehadap bahasa Indonesia. Pengajaran apresiasi sastra di samping untuk menunjang kemampuan berbahasa Indonesia juga siswa mampu menghayati secara mendalam kerya sastra, menghargai karya sastra dan pengarang serta mengambil nilai-nilai luhur yang ada di dalam karya sastra itu juga untuk meningkatkan martabat kemanusiaan dan cultural (Depdikbud, 1995).


Pembelajaran bahasa Indonesia yang secara tersurat juga menyertakan pembelajaran sastra dalam rancangan dan pelaksanaannya serta mempunyai cakupan materi yang cukup luas. Hal ini menyebabkan ketumpangtindihan dan ketidakseragaman dalam memperlakukan pembelajaran sastra di sekolah-sekolah. Di satu sisi, pembelajaran sastra menjadi bagian tak terpisahkan dari pembelajaran bahasa Indonesia dan di pihak yang lain pembelajaran sastra mempunyai jadwal tersendiri. Selain itu, pembelajaran sastra mempunyai berbagai permasalahan antara lain masalah strategi belajar mengajar, pemilihan materi yang cocok, penyajian bahan yang menarik, bentuk pembelajaran sastra yang bermuarakan apresiasi dan masalah alokasi waktu pembelajaran yang sangat terbatas yaitu hanya kurang lebih seperlima dari pembelajaran bahasa Indonesia secara keseluruhan (Kurikulum 1994) dan sebagainya. Pendek kata, pengajaran sastra di sekolah umum masih jauh dari memuaskan (Ismail, 1998).

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latarbelakang masalah di atas, maka perumusan masalah yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam hal mengapresiasi dan menulis karya sastra dari sebelum dan sesudah tindakan?

2. Apakah terjadi respon positif dari siswa seperti siswa merasa senang, lebih aktif mengikuti pembelajaran, lebih mudah memahami materi pembelajaran, lebih aktif mengerjakan tugas, lebih bergairah dalam mengapresiasi karya sasrta baik di dalam maupun di luar jam pelajaran serta lebih mandiri dan percaya diri dalam melakukan berbagai kegiatan sastra di luar sekolah?

3. Apakah ada tindakan yang dapat dilakukan oleh guru pelaku pada khususnya, dan guru bahasa Indonesia lain pada umumnya?

4. Apakah terjadi respon positif dari guru pelajaran bahasa Indonesia lainnya?

C. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan memiliki signifikansi baik dari segi teoritis maupun praktis.

  1. Secara teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman pembaca akan jenis-jenis kesulitan belajar sastra yang dihadapi siswa, jenis-jenis kesulitan atau kesalahan pembelajaran sastra yang dihadapi oleh guru dan konsep-konsep pemanfaatan sarana atau media fasilitas belajar sastra yang ada disekolah maupun dimasyarakat oleh siswa dan guru.

  1. Secara praktis

Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi guru bahasa Indonesia dalam melaksanakan pembelajaran sastra yang terpadu dan efektif untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar mengajar sastra disekolah-sekolah. Dengan pembelajaran yang lebih praktis diharapkan hasil penelitian ini memudahkan bagi siswa dalam mengapresiasi karya sastra yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hasil belajar sastra siswa.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

Lebih jauh Ismail (1998) menyatakan bahwa apresiasi sastra sangat kurang diberikan di sekolah, sebaliknya yang diberikan hanyalah penghafalan terhadap teori sastra, menghafal nama-nama sastrawan, angkatan kepengarangan dan cuplikan beberapa karya yang menonjol. Kenyataan di lapangan demikianlah yang terjadi seperti yang diungkapkan oleh guru-guru bahasa Indonesia dalam MGBS. Selebihnya, pembelajaran sastra mungkin berupa menganalisis makna kata dalam rangka mencari pesan-pesan yang tersirat dalam suatu karya sastra serta membaca dan menghafalkan sajak-sajak pilihan. Sejauh ini, hal-hal yang berkaitan dengan apresiasi sastra dan membuat karya sastra hamper tak pernah diberikan. Hal ini tidak terlepas dari tuntutan yang tinggi yaitu agar siswa dapat mengerjakan Ujian Akhir Nasional dengan baik. Keadaan yang demikian tentu akan menjauhkan siswa dari penghayatan karya sastra seperti yang semestinya tercapai. Hal ini diperparah oleh kenyataan bahwa guru-guru bahasa Indonesia baik SMP maupun SMA kurang mampu melaksanakan pembelajaran apresiasi sastra karena wawasan teoritis mereka yang kurang memadai (Damono, 2000; Pradopo, 1998).

Hal-hal yang disebutkan di atas merupakan keadaan yang diakibatkan langsung maupun tidak langsung oleh proses belajar mengajar sastra di kelas. Sementara itu, faktor-faktor lainnya seperti kelangkaan sumber belajar sastra, kemampuan guru bahasa dalam mengapresiasi dan menciptakan karya sastra (Yudiono, 2000) serta kesan negatif siswa bahwa sastra bukan sesuatu yang penting untuk dipelajari, juga merupakan hal-hal yang membentuk kesulitan pembelajaran sastra semakian menumpuk. Tambahan lagi guru belum tahu model pembelajaran sastra yang apresiatif. Hal ini dikeluhkan oleh para guru bahasa yang tergabung dalam MGBS bahasa Indonesia. Tampaknya, masalah pembelajaran sastra bukanlah merupakan kasus tunggal akan tetapi kasus yang saling mengait satu dengan yang lainnya.

Berdasarkan paparan di atas, pembelajaran sastra sulit untuk mencapai sasaran yang diharapkan Pengetahuan yang diperoleh siswa itu barulah berupa potongan-potongan informasi yang terpisah-pisah dan bersifat statis tentang sesuatu atau hal. Pembelajaran yang berciri seperti di atas menurut Anderson (1983) masih dalam tataran declarative knowlwdge, artinya pembelajaran yang hanya mengedepankan pengetahuan yang berupa definisi, deklarasi, mengetahui tentang sesuatu dan pemikiran tentang sebuah tindakan. Untuk dapat mencapai tingkat keterampilan dan penghayatan yang baik, informasi yang statis ini haruslah diupayakan agar bersifat dinamis sehingga dapat mencapai tataran procesdural knowledge, yaitu pembelajaran yang memadukan pengetahuan teoritis dan keterampilan motorik untuk mencapai penghayatan yang lebih.

Menurut ahli pendidikan seni dari Jerman, Gruhn (2000), procesdural knowledge adalah pendekatan praktis-aktif yang memungkinkan siswa dapat secara mudah menetapkan informasi atau teori-teori yang didapat dalam tahap declaratif knowledge dalam konteks yang nyata. Menurut beliau juga, di dalam pendekatan aktif-praktis ini siswa harus diekspos langsung dan terus menerus pada hal-hal yang sedang dipelajari. Dengan banyak praktek dan pengeksposan secara luas dan menyeluruh (komprehensif) tidak terputus-putus, siswa akhirnya dengan lancer menerapkan pengetahuan atau informasi yang diperolehnya secara dinamis dan aktif. Kepiawaian menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang didapatkan pada gilirannya akan mengantarkan siswa ke tataran yang lebih tinggi yaitu kemandirian dan mempelajari sesuatu yang baru (Anderson, 1983; Dickinson, 1995).dijelaskan oleh Dickinson (1995) bahwa siswa yang telah mencapai tahap kemandirian dapat memilih dan menentukan belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya, dapat menggunakan berbagai strategi belajar serta dapat memantau sendiri proses belajarnya secara aktif dan mandiri.

Dalam pembelajaran sastra, permasalahan yang cukup menonjol adalah bagaimana pembelajaran praktis-aktif dapat mengantarkan siswa pada tataran dapat secara mendiri mengapresiasikan bentuk karya sastra dan sekaligus dapat mengantarkan siswa mempunyai kemampuan dan keterampilan bahasa Indonesia secara lebih luas. Masalah ini tidak dapat lepas dari konteks pembelajaran Indonesia secara keseluruhan yang perlu dikaji dan dicarikan jalan pemecahannya. Dengan demikian penelitian ini merupakan suatu usaha menjembatani pembelajaran bahasa Indonesia secara terpadu dengan pembelajaran sastra yang praktis-aktif sehingga siswa mencapai suatu kemandirian dalam hal mempelajari dan mengapresiasikan karya sastra.

B. Hipotesis Penelitian

1. Terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam hal mengapresiasi dan menulis karya sastra dari sebelum dan sesudah tindakan.

2. Terjadi respon positif dari siswa seperti siswa merasa senang, lebih aktif mengikuti pembelajaran, lebih mudah memahami materi pembelajaran, lebih aktif mengerjakan tugas, lebih bergairah dalam mengapresiasi karya sasrta baik di dalam maupun di luar jam pelajaran serta lebih mandiri dan percaya diri dalam melakukan berbagai kegiatan sastra di luar sekolah.

3. Ada berbagai tindakan yang dapat dilakukan oleh guru pelaku pada khususnya, dan guru bahasa Indonesia lain pada umumnya.

4. Terjadi respon positif dari guru pelajaran bahasa Indonesia lainnya.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di sekolah menegah pertama selama 4 bulan mulai bulan Agustus sampai November 2009.

B. Prosedur Penelitian

Secara garis besar penelitian ini dilakukan dalam lima tahap yaitu identifikasi masalah dan merumuskan masalah, menyusun rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, pemantauan dan evaluasi serta analisis dan reflesi. Sementara itu penelitian dikelas aksi meliputi 4 kegiatan utama yaitu penentuan rencana tindakan, pelaksanaan rencana tindakan, pemantauan dan evaluasi serta analisis dan refleksi. Keempat kegiatan utama itu dilakukan secara bertahap dan lengkap serta berulang-ulang untuk kemudian kembali ketahap awal penentuan rencana tindakan berikutnya sehingga membentuk siklus tertentu sampai ditemukan model pembelajaran yang diinginkan.

1. Menyusun Rencana Tindakan

Dalam menyusun rencana tindakan peneliti melakukan koordinasi dengan guru bidang studi bahas Indonesia, untuk mementukan tugas masing-masing anggota tim, mementukan jadwal kerja yang mengacu pada alokasi waktu pembelajaran, merumuskan tindakan yang dipilih dan instrument pemantauan, merumuskan berbagai hipotesis tindakan ini berdasarkan masing-masing jenis kesulitan belajar dan kesalahan pembelajaran yang sangat dominan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Menggapi berbagai permasalahan di atas, penulis mencoba menawarkan model pembelajaran dengan pendekatan praktis-aktif atau procedural knowledge. Procedural knowledge artinya mengetahui praktis-aktif untuk mengetahui bagaimana pemikiran yang menghasilkan tindakan praktis. Pendekatan praktis-aktif ini diupayakan agar proses dan hasil pembelajaran sastra yang selama ini masih berupa pengetahuan dan bersifat definisi dan deklarasi dapat menyertakan aspek afektif dan sekaligus juga aspek keterampilan. Pendekatan ini merupakan pemaduan proses belajar mengajar di kelas dengan aktivitas siswa berkarya sastra di luar sekolah dengan memanfaatkan sumber-sumber belajar, media dan sarana yang ada di lingkungan masyarakat.

Prosedur pendekatan praktis-aktif yang akan diupayakan berupa tugas-tugas dan kegiatan akstra kurikuler disamping kegiatan pokok siswa di kelas. Siswa diberi tugas rumah baik secara individu maupun secara kelompok untuk melakukan aktivitas sastra seperti membaca karya sastra, menyaksikan pementasan karya sastra, mendengarkan rekaman pembacaan karya sastra, mengapresiasi pergelaran sastra serta menulis karya sastra. Semua kegiatan itu akan dipantau dengan instrument kegiatan, ditulis jenis kegiatan yang dilakukan dan dilaporkan ke guru. Dalam mengerjakan tugas tersebut, siswa diberi kebebasan untuk memilih tema, memilih jenis sastra dan memilih jenis sarana media belajar serta tempat belajar sesuai dengan minatnya. Selanjutnya di kelas, siswa diajak berdiskusi untuk membahas apa yang mampu diserap dari aktivitanya tadi sesuai dengan persepsi dan kemampuan masing-masing siswa. Selanjutnya guru akan mengkaitkan kegiatan tersebut dengan tema atau pokok pembelajaran sastra sesuai dengan GBPP. Sarana media belajar dapat berupa media cetak, media audio visual, pergelaran langsung dan lain-lain. Tempat sumber belajar dapat dilakukan di rumah, perpustakaan, taman budaya, tempat wisata dan lain-lain. Dalam pelaksanaan pendekatan praktis-aktif ini, seorang guru dituntut benar-benar mengikuti perkembangan seni sastra di masyarakat baik secara langsung maupun melalui media massa.

2. Pelaksanaan Tindakan

Tahap pelaksanaan tindakan yaitu guru mengajarkan sastra dengan menerapkan hipotesis tindakan. Sementara guru mengajar, peneliti memantaunya dari deretan belakang siswa. Selanjutnya setelah tindakan berakhir, semua peneliti berdiskusi membahas pelaksanaan tindakan tadi dan dilanjutkan dengan mengadakan refleksi. Hasil refleksi ini digunakan untuk menyusun tindakan selanjutnya. Hal ini dimaksudkan agar bila terjadi kesalahan pelaksanaan tindakan, maka dapat segera diketahui dan diperbaiki.

3. Pemantauan dan Evaluasi

Tahap ini merupakan kegiatan evaluasi dari diagnosis terhadap pelaksanan hipotesis tindakan yang dimaksud, yaitu penerapan pendekatan praktis-aktif. Bentuk diagnostik ulang ini dapat digali melalui observasi aktif di kelas, post test dan melalui wawancara dengan siswa dan guru. Berdasarkan hasil diagnostic ulang atau evaluasi ini kemudian dirumuskan perbaikan terhadap hipotesis tindakan pertama sehingga menjadi hipotesis tindakan kedua.

4. Analisis dan Refleksi

Kegiatan analisis dan refleksi yaitu kegiatan meninjau kembali hal-hal yang sudah dilakukan dengan jalan menganalisis keseluruhan proses tindakan. Selanjutnya dilakukan refleksi untuk memperbaiki kekurangan yang ada serta menemtukan terapi yang ditentukan. Berdasarkan hasil evaluasi terapi ini, barulah dirumuskan perbaikan terhadap hipotesis tindakan untuk menjadi tesis tindakan.

C. Sumber Data

Sumber data primer dari penelitian ini adalah : 2 kelas yang dipakai sebagai sampel yaitu dari kelas IIE dan IIG.

D. Teknik Sampling

Sampel dipilih kelas IIG dan IIE dengan alasan, pada awal semester biasanya siswa-siswa kelas dua mengalami pembelajaran dikelas satu selama satu tahun sehinga peneliti bersama sama guru bahasa Indonesia kelas satu melakukan identifikasi materi pelajaran sastra yang diberikan, metode pembelajaran yang dilaksanakan yaitu kesulitan belajr sastra yang dihadapi siswa serta kesalahan pembelajaran yang dihadapi guru. Selain alasan diatas, dalam pelaksanaan tindakan nantinya tidak banyak menggangu proses belajar siswa menjelang keaikan kelas. Sampel sebanyak dua kelas, satu kelas digunakan sebagai kelas aksi dan kelas yang lainnya digunakan sebagai kelas kontrol. Pemilihan kelas-kelas itu dilakukan berdasarkan kesepakatan antara guru bahasa Indonesia dengan peneliti. Pemiliahan kedua kelas tersebut berdasarkan pertimbangan antara lain kemampuan siswa dalam pelajaran sastra relative sama, keduanya merupakan kelas yang cukup aktif dan tidak mempunyai masalah-masalah belajar dan letak kelas dalam lokasi deret yang sama yang berarti pengaruh lingkungan seperti kebisingan relatif sama.

E. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini merupakan suatu analisis deskriptif kualitatif dengan model analisis intrraktif. Dalam analisis interaktif, tiga komponen analisa yaitu reduksi data, penyajian data (data display) dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Aktivitas yang dilakukan dalam bentuk interaktif dengan pengumpulan data sebagai proses siklus.

Posted on March 24, 2009, in penelitian pengajaran and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. istajib lana

    tolong kirimkan artikel atau makalah tentang upaya meningkatkan kemampuan menulis puisi dengan metode audiovisual !

  2. referensinya dong dibagikannn. pleasee

  3. dewi rahmawati

    iya bener banget pingin tau referensi’a leh g???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: